Feb
04
Posted by Yasri Yudhistira
Akankah Indonesia mengecap salah satu mata rantai semikonduktor kelak?
7 bulan setelah pindah ke perusahaan pembuat memori terbesar di Eropa, saya harus melakukan keputusan strategis untuk pindah ke perusahaan lain di Belanda. 4 bulan kemudian perusahaan lama saya di Jerman meminta perlindungan kebangkrutan.
This is shocking, well, to some industry analyst it’s not. Pembuat memori ibarat seperti pedagang kerupuk yang menjual produk sebanyak-banyaknya dengan keuntungan tipis. Harga DRAM menukik hingga -90% dari puncaknya pada tahun 2007. Siapapun yang tidak mampu membuat produk dengan biaya yang semurah mungkin tidak mungkin selamat. Perusahaan Jerman itu harus menelan kerugian lebih dari EUR 400 juta per kuartal atau Rp. 24 trilyun per tahun.
Salah satu penyebab kejatuhan harga DRAM adalah terlalu banyak supply yang diakibatkan dari ekspansi gila-gilaan yang dilakukan sekitar tahun 2007. Tahun itu memang tahun yang sangat menguntungkan untuk semua industri memori. Tak heran semua pemain di dunia — Korea (Samsung dan Hynix), Amerika (Micron), Jepang (Elpida), beberapa perusahaan Taiwan, termasuk ex-perusahaan saya di Jerman — melakukan ekspansi yang waktu itu masih berharap harga dan demand tetap tinggi. Apalagi Olimpiade Beijing 2008 waktu itu diharapkan akan menumbuhkan permintaan yang akan melebihi tahun-tahun biasanya. Kenyataannya tidak demikian.
Akhir tahun 2007, harga mulai anjlok setelah melihat ‘kegagalan’ (versi semiconductor maker) Windows Vista yang ternyata mengecewakan karena tidak membutuhkan memori yang sangat banyak dan adopsinya yang lambat. Traditionally, pertumbuhan hardware dipancing oleh kebutuhan akan perangkat lunak. Computer games misalnya memicu nVidia dan ATI berlomba-lomba menampilkan produk grafis yang semakin canggih. Windows 95 memicu pertumbuhan pemakaian memori, yang waktu itu masih di kisaran 1-4 MB hingga ke kisaran puluhan hingga ratusan MB.
Perubahan pasar tiba-tiba ini memicu semua perusahaan untuk mengurangi cost seefektif mungkin. Dalam dunia memori, mengurangi cost bisa dilakukan dengan memperkecil geometri (ukuran) chip, sehingga jumlah chip yang dihasilkan per wafer akan lebih banyak. Misalnya, migrasi dari teknologi 70 nm ke 60 nm, akan memperkecil total ukuran chip hingga 25%. Bisa juga dengan memperbesar ukuran wafer dari 200 mm ke 300 mm sehingga dengan ukuran wafer yang lebih besar jumlah chip yang diproduksi dalam satu waktu akan lebih banyak.
Tetapi ingat, semua perusahaan memori di dunia akan melakukan trik yang sama. Alih-alih berusaha menekan cost yang semurah mungkin, pasar dibanjiri lebih banyak produk lagi. Harga memori tidak beranjak naik hingga pertengahan tahun 2008, yang mengakibatkan perusahaan menjadi kalang kabut. Hanya Samsung yang masih bisa bernafas di tengah kejamnya persaingan pasar.
Hynix misalnya mulai menutup pabrik yang masih memproses produk dengan wafer berdiameter 200 mm. Qimonda memutuskan untuk menghentikan riset dan pengembangan memori Flash yang banyak digunakan di kamera digital, MP3, dan handphone. Elpida yang berencana membuka pabrik baru terbesar di dunia di China menghentikan rencananya. Beberapa pabrik lain di Taiwan yang kosong melompong harus bekerja sama dengan foundry untuk berbagi loadingnya. Micron menjual beberapa divisinya yang kurang menguntungkan.
Situasi ini juga membuat panik karyawan. Saya misalnya harus mulai berburu pekerjaan baru hanya beberapa bulan setelah tiba di Jerman. Just in case something really bad happened (and it is now).
Situasi memburuk setelah akhir September krisis financial dunia mulai terlihat jelas. Industri financial yang bobrok mengakibatkan kegiatan ekonomi di seluruh dunia melambat.
Dalam dunia semikonduktor yang padat modal dan padat tenaga ahli dengan gaji mahal, keengganan bank untuk memberikan kredit berdampak sangat negatif. Berkurangnya sentimen konsumen menambah parah keadaan karena pendapatan perusahaan berkurang drastis.
Mungkin ini biasa dalam dunia semikonduktor yang sifatnya siklikal. Di saat ekonomi bagus, mereka menghasilkan uang sebanyak-banyaknya, dan di saat resesi mereka mengandalkan cash di tangan untuk membiayai riset dan pengembangan produk berikutnya di saat ekonomi bangkit kembali. Beberapa perusahaan memiliki strategi internal menghadapi masa-masa resesi yang terjadi sekitar setiap 3-5 tahun sekali.
Tetapi parahnya kondisi ekonomi sekarang dianggap oleh para analis lebih parah dari resesi tahun 2001. Tidak ada lagi perusahaan yang bisa diberi label “recession proof”. Bahkan Intel, perusahaan chip nomor 1 di dunia, harus menutup beberapa pabrik di Malaysia dan melakukan PHK massal beberapa ribu karyawan. Samsung, perusahaan chip nomor 2 di dunia, harus mengaku “kalah” dalam perang harga di pasar memori dan menelan kerugian yang signifikan. Beberapa perusahaan besar Jepang pun harus menelan kerugian hingga puluhan trilyun rupiah per tahun.
Looking forward, apakah di masa depan industri semikonduktor akan terus sustainable (berkesinambungan)? Secara realistis, tanpa adanya growth driver dalam bentuk produk inovatif baru, industri semikonduktor akan jauh lebih suram dari sebelumnya. Kebutuhan upgrade komputer tidak lagi secepat 10 tahun silam. Perkembangan software mungkin melambat karena internet. Orang tidak lagi perlu komputer dengan spesifikasi canggih untuk bisa lebih produktif menjalankan program-program canggih di komputernya seperti beberapa tahun lalu. Hanya orang-orang di kalangan tertentu yang masih mau membeli high end gadget. Di luar negeri, pembelian hand phone rata-rata harus menggunakan kontrak dengan penyedia layanan untuk terus berlangganan selama kurun waktu tertentu (1 atau 2 tahun), yang mungkin juga memperlambat penjualan handphone.
Semoga semua kekhawatiran saya salah. Semoga krisis cepat berlalu. Dan semoga siapa pun yang sedang berjuang, baik untuk mempertahankan pekerjaannya sekarang, atau pun berjuang untuk mencari pekerjaan baru karena terpaksa, diberi ketabahan dan kemudahan.
Sep
25
Posted by Yasri Yudhistira
Sedikit kilas balik tentang proses kepindahan saya ke Jerman, semoga ada manfaatnya.
Juni 2007
Bekas kolega sekantor saya (yang waktu itu sudah pindah ke perusahaan dan negara lain) menghubungi saya, menanyakan mungkin saya tertarik untuk bergabung di perusahaannya yang baru di Jerman. Waktu itu saya memang sedang aktif memikirkan strategi untuk pindah. Kesempatan ini tidak saya lewatkan.
Beberapa hari kemudian, kolega saya mengirimkan resume saya kepada seseorang lain yang juga bekas kolega saya sewaktu saya ditugaskan di Amerika. Dia (orang Jerman) kenal betul dengan saya dan tahu persis kemampuan dan kompetensi saya. Waktu itu kebetulan dia memimpin satu team dan saya adalah salah satu anggota aktif team tersebut. Dengan senang hati, ia merekomendasikan saya ke beberapa departemen di sini hingga akhirnya ada salah satu departemen yang membutuhkan seorang expert untuk mengintegrasikan beberapa bidang sekaligus.
Akhir Juli 2007
Akhirnya kesempatan itu datang juga. Mereka mengundang saya melakukan wawancara jarak jauh melalui telepon.
Agustus 2007
Saya harus pulang untuk momen terpenting dalam hidup saya : pernikahan. Saya menikah dengan Lidia Indriyani di Jakarta tanggal 11 Agustus 2007.
Akhir Agustus 2007
Saya lolos wawancara via telepon dan sekarang calon perusahaan saya mengundang saya datang ke Jerman untuk wawancara secara langsung dan melakukan tes kesehatan. Berhubung saya sedang cuti, saya harus menunda hingga kira-kira 2 minggu dari jadwal wawancara sebeumnya.
Awal September 2007
Pengantin baru membawa sang istri dari kampung halaman ke medan perang di Singapur. Hari berikutnya saya langsung ke kedutaan Jerman di Singapura untuk mengurus visa untuk interview. Rencananya mau ke Jerman sambil bulan madu kedua, tapi apa daya, berhubung istri belum memiliki izin tetap tinggal di Singapura, visa istri hanya bisa dilakukan dari Jakarta. Jadwal wawancara hanya tinggal seminggu lagi, jadi dengan sangat terpaksa pengantin baru harus berpisah (walaupun hanya beberapa hari)
Pertengahan September 2007
Wawancara di Jerman. Saya harus mengoptimalkan perjalanan saya, karena cuti saya di Singapura sudah habis untuk persiapan pernikahan, bulan madu, dan rencana mudik lebaran bulan Oktober. Wawancara dijadwalkan hari Senin. Hotel, transportasi, dan bahkan city tour dipersiapkan calon perusahaan baru saya.
Saya berangkat hari Sabtu malam dari Changi Airport, tiba di Frankfurt hari Minggu pagi. Petugas imigrasi agak heran dengan visa saya yang hanya berlaku 3 hari. (Pemerintah Jerman sangat “pelit” dengan pemberian visa turis. Jangka waktu visa diberikan sesuai dengan berapa lama kita akan berkunjung di sana, disesuaikan dengan jadwal tiket pulang pergi. Jadi berhubung tiket saya hanya untuk 3 hari, pemerintah Jerman tidak tanggung-tanggung memberi visa hanya 3 hari). Saya harus meyakinkan petugas imigrasi bahwa saya akan pulang tepat waktu. Saya tunjukkan tiket pulang, reservasi hotel, dan juga surat dari calon perusahaan tentang tujuan saya ke sini.
Minggu sore, penerbangan berikutnya menuju Dresden, kota calon perusahaan baru berada. Praktis sejak Sabtu malam waktu Singapura atau Sabtu siang waktu Jerman, hingga Minggu malam waktu Jerman, istirahat saya hanya terbatas di pesawat dan duduk-duduk di Frankfurt. British Airways Boeing 747 yang saya naiki dalam perjalanan ke Jerman memiliki bangku yang relatif kecil dan ruang kaki yang sempit. Maklum pesawat lama, karena pesawat yang relatif baru seperti Boeing 767 yang biasa digunakan trans-pasifik ke Amerika memiliki ruang kaki yang lebih renggang, sehingga perjalanan panjang lebih tidak terasa melelahkan.
Malam itu saya harus tidur cukup, karena esok pagi seseorang dari perusahaan akan datang untuk memberikan sedikit tour tentang kota Dresden.
Kota Dresden adalah kota cantik dihias dengan gedung-gedung tua yang megah. Sungai Elbe yang membelah kota dari timur ke barat menambah kecantikan dan keanggunan kota. Dresden adalah kota bekas Jerman Timur yang terjaga kelestariannya. Dengan penduduk hanya 500 ribu orang, Dresden memiliki daerah hijau yang termasuk paling besar di dunia.
Satu yang saya kagumi dengan kota ini adalah orangnya. Dibandingkan dengan stereotype orang Jerman yang saya pahami, orang Dresden terasa jauh lebih ramah. Walaupun banyak di antara mereka yang tidak berbahasa Inggris (tapi banyak yang bisa berbahasa Rusia karena pengaruh Jerman Timur), tapi saya bisa merasakan keramahannya.
Siang hari tes kesehatan dimulai, sore harinya wawancara diadakan di gedung terpisah. Saya harus pulang malam hari itu juga ke Singapura untuk kembali bekerja hari Rabu pagi waktu Singapura. Ada 3 orang yang mewawancarai saya pada saat itu, calon manager saya, human resource, dan seorang expert yang kemudian menjadi mentor saya sewaktu saya mulai bekerja. Wawancara berlangsung sangat kondusif, everyone is happy.
Menuju akhir September 2007
Satiba di Singapura, saya cek email, dan ternyata saya sudah diterima! Amazing, ini pertama kali dalam hidup saya, saya diterima bekerja begitu cepat. Saya jawab saat itu juga saya harus diskusi dengan keluarga, teman, dan mempertimbangkan lebih dalam apakah pindah kerja saat itu benar-benar pilihan yang tepat.
Untuk istri saya, mungkin bukan hal yang menyenangkan untuk pindah ke 2 negara dalam waktu yang sangat singkat. Singapura lebih dekat dengan keluarga sehingga perasaan “hilang” atau “jauh” tidak begitu terasa. Sementara Jerman, walaupun pesawat dari Frankfurt ke Singapura tersedia beberapa kali sehari, dan dari Singapura ke Jakarta hampir setiap jam, tetapi pulang untuk melepas kangen akan lebih sulit mengingat jarak dan biaya yang harus dikeluarkan.
Untung ada beberapa teman yang saat itu sudah bekerja di calon perusahaan saya, sehingga saya bisa bertanya lebih detail apakah paket yang saya terima memang lebih baik dibandingkan dengan Singapura. Salah satu pertimbangannya adalah besarnya pajak dan asuransi di Jerman. Tetapi di sisi lain, ternyata biaya hidup di Dresden dapat dibilang lebih murah (secara relatif dibanding dengan gaji) dibandingkan dengan Singapura. Rumah misalnya (biasanya komponen terbesar dari pengeluaran rumah tangga) di Singapura berkisar lebih dari 35% gaji, sementara di Dresden hanya kurang dari 20% gaji.
Akhirnya, akhir bulan September saya terima tawaran dari perusahaan baru
Oktober 2007
Mail exchange dari Dresden dan Singapura, tentang kontrak kerja, offer letter, dan lain-lain. Dengan surat-surat ini kemudian kedua belah pihak (saya dan perusahaan baru) bisa memulai pengurusan visa. Perlu dicatat bahwa pengurusan visa kerja lazimnya dilakukan oleh calon perusahaan tempat kita bekerja. Sedangkan pengajuan visa yang kita lakukan di kedutaan tempat kita tinggal hanya bersifat formalitas. Keputusan akan diberikan langsung dari pemerintah negara asal. Hal ini juga berlaku di Jerman.
Spesifik untuk Jerman ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan baik dari perusahaan maupun dari calon pegawai :
- Dari perusahaan : Mereka harus membuktikan kepada Departemen Tenaga Kerja Jerman bahwa tidak ada orang di seluruh Jerman yang bisa dipekerjakan selain calon pegawai yang akan diimport dari negara lain. Ini terkait dengan perlindungan warga negara Jerman bahwa mereka berhak mendapat pekerjaan terlebih dahulu sebelum orang asing.
- Jangan takut dengan peraturan ini, karena bagaimanapun pada saat perusahaan memberikan offer kepada orang asing, mereka sudah mempertimbangkan ini. Walaupun tingkat pengangguran termasuk tinggi di Jerman, tetapi banyak sekali tenaga ahli yang dibutuhkan. Sehingga untuk beberapa bidang, seperti microelectronics, software engineering, prosedur ini biasanya lebih mudah untuk dilalui.
- Dari calon pegawai, khususnya orang Indonesia
- Buku nikah yang sudah dilegalisasi dan diterjemahkan. Prosedurnya sangat amat repot, karena harus berurusan dengan berbagai instansi di Indonesia
- Legalisasi di KUA setempat
- Legalisasi di Departemen Agama
- Legalisasi di Departemen Kehakiman
- Legalisasi di Departemen Luar Negeri
- Legalisasi di Kedutaan Jerman di Indonesia (harus di Indonesia, tidak bisa di kedutaan Jerman di negara lain)
- Semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman
- Balik lagi ke Kedutaan Jerman di Indonesia untuk legalisasi
- Bagi yang memiliki anak, akta kelahiran anak harus melalui prosedur serupa. Tapi saya kurang tahu, mungkin KUA diganti dengan Kantor Catatan Sipil.
- Photo –> Kedutaan sangat amat strict dengan persyaratan foto. Silakan lihat di link kedutaan Jerman di blog saya terdahulu
- Dokumen lain-lain, seperti kontrak kerja, resume, dan ijazah.
- Catatan untuk istri yang ikut dengan famil-reunification visa :
- Mulai September 2007, anggota keluarga yang ikut harus bisa menunjukkan bukti bisa berbahasa Jerman (biasanya sertifikasi Start Deutsche 1 sudah cukup)
- Ada beberapa pengecualian : Suami berkewarganegaraan EU, US, UK, Jepang, Korea, dan beberapa lainnya. Atau Suami bekerja di kategori “high skilled worker”. Yang masuk kategori high skilled worker misalnya professor, atau technical person dengan gaji yang sangat tinggi.
- Cek dengan kedutaan untuk lebih jelas dengan aturan ini.
November 2007
Visa saya sudah keluar, tapi visa istri masih terganjal soal legalisasi buku nikah dan bukti kemampuan berbahasa Jerman. Butuh waktu lama untuk mencari tahu bagaimana caranya melakukan legalisasi, belum termasuk pengiriman dokumen dari Singapura ke Depok (rumah mertua) yang memakan waktu lebih lama dari biasanya.
Akhirnya akhir November legalisasi selesai, dan kami kembali ke kedutaan Jerman di Singapura untuk melengkapi persyaratan visa. Entah mengapa persyaratan kemampuan bahasa Jerman tidak ditanyakan lagi, yang mungkin waktu itu karena sedang dalam proses transisi ke peraturan baru.
Akhir November juga, saya menyatakan pengunduran diri di perusahaan lama efektif akhir Februari. Mengingat posisi saya sebagai Principal Engineer, pernyataan pengunduran diri harus dilakukan 2-3 bulan sebelum tanggal efektif.
Desember 2007
Visa untuk istri saya akhirnya keluar. Akhir Desember kami mulai melakukan persiapan pindahan.
Februari 2007
Perusahaan relokasi yang telah ditentukan oleh perusahaan baru melakukan inspeksi untuk menentukan perkiraan biaya yang diperlukan untuk pindahan. Pertengahan Februari, keluarga (orang tua) saya datang ke Singapura untuk membantu pindahan sekaligus perpisahan setelah hampir 7 tahun di Singapura.
Akhirnya akhir Februari, saya resmi keluar dari perusahaan lama, dan kami kembali ke Indonesia untuk mengecap saat-saat akhir kami di Indonesia. Tentunya di Eropa tidak mudah untuk mencari makanan, suasana dan canda ria keluarga dan sanak saudara. Dengan izin dan doa restu orang tua, kakek nenek, dan seluruh keluarga, kami berangkat akhir bulan Februari menuju ke tempat pertarungan berikutnya : Dresden.
Semoga tulisan ini ada hikmahnya. Satu hal yang paling penting : bahwa menjadi perantau di negeri orang tidaklah mudah. Dan kalau mau dicermati, kami membutuhkan waktu lebih dari 7 bulan dari tahap melamar, memberikan resume, hingga akhirnya terbang dan bekerja.
Masih banyak lagi pengalaman yang mudah-mudahan di kesempatan yang akan datang akan saya bagi di blog saya ini. Stay tuned.