Jul
03
Posted by Yasri Yudhistira
Daffa Zaidan Ilmi Yudhistira

He was born on June 25, 2009 on 20:38 CEST (GMT + 2) in Catharina Hospital, Eindhoven, The Netherlands.
The name comes from Arabic words : Daffa’ = encouraging/supporting/defending/strong, Zaidan = excessive/has a lot more/extra, and Ilmi = knowledge/science.
The first meaning is ’strong and knowledgeable person’, a leader in modern times, who does not depend only on raw muscle but also brain power, the one who is capable to enhance life of others, a key ingredient in knowledge based society.
The second meaning is the one who ‘encourages the advancement of knowledge/science’, the one who continuously learns and expands his knowledge base, and further extends the body of knowledge itself. The one who is respected because of his intellectuality.
Rabbana hablana min azwajina wa dhurriyyatina qurrata a’yuninw waj ‘alna lil muttaqina imama (’Our Lord, grant us of our wives and children the delight of our eyes, and make us a model for the righteous.’, Al-Qur’an 25:75). Amen!
Daffa Zaidan Ilmi Yudhistira dilahirkan pada tanggal 25 Juni 2009 pukul 20:38 waktu setempat (GMT + 2) di Rumah Sakit Catharina, Eindhoven, Belanda.
Namanya berasal dari bahasa Arab : Daffa’ = mendorong/mendukung/mempertahankan/kuat, Zaidan = kelebihan, Ilmi = ilmu pengetahuan.
Arti pertama adalah ‘orang yang kuat dan memiliki kelebihan pengetahuan’, yaitu ciri seorang pemimpin di zaman modern, yang mana ia tidak hanya disegani karena kekuatan ototnya semata, akan tetapi juga karena kemampuan pemikirannya. Orang yang memiliki kapasitas untuk memperbaiki kehidupan orang-orang di sekitarnya dengan kepemimpinan dan pengetahuannya.
Yang kedua berarti seseorang yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu orang yang senantiasa belajar sepanjang hidupnya, memperluas wawasan dan cakrawala keilmuannya, hingga akhirnya mampu mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri ke level yang lebih tinggi hingga berguna untuk kebaikan umat di masa yang akan datang. Ia adalah orang yang disegani karena intelektualitas yang dimilikinya.
Rabbana hablana min azwajina wa dhurriyyatina qurrata a’yuninw waj ‘alna lil muttaqina imama (’Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami isteri dan anak-anak kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’, Al-Qur’an 25:75). Amiin!
Feb
04
Posted by Yasri Yudhistira
Akankah Indonesia mengecap salah satu mata rantai semikonduktor kelak?
7 bulan setelah pindah ke perusahaan pembuat memori terbesar di Eropa, saya harus melakukan keputusan strategis untuk pindah ke perusahaan lain di Belanda. 4 bulan kemudian perusahaan lama saya di Jerman meminta perlindungan kebangkrutan.
This is shocking, well, to some industry analyst it’s not. Pembuat memori ibarat seperti pedagang kerupuk yang menjual produk sebanyak-banyaknya dengan keuntungan tipis. Harga DRAM menukik hingga -90% dari puncaknya pada tahun 2007. Siapapun yang tidak mampu membuat produk dengan biaya yang semurah mungkin tidak mungkin selamat. Perusahaan Jerman itu harus menelan kerugian lebih dari EUR 400 juta per kuartal atau Rp. 24 trilyun per tahun.
Salah satu penyebab kejatuhan harga DRAM adalah terlalu banyak supply yang diakibatkan dari ekspansi gila-gilaan yang dilakukan sekitar tahun 2007. Tahun itu memang tahun yang sangat menguntungkan untuk semua industri memori. Tak heran semua pemain di dunia — Korea (Samsung dan Hynix), Amerika (Micron), Jepang (Elpida), beberapa perusahaan Taiwan, termasuk ex-perusahaan saya di Jerman — melakukan ekspansi yang waktu itu masih berharap harga dan demand tetap tinggi. Apalagi Olimpiade Beijing 2008 waktu itu diharapkan akan menumbuhkan permintaan yang akan melebihi tahun-tahun biasanya. Kenyataannya tidak demikian.
Akhir tahun 2007, harga mulai anjlok setelah melihat ‘kegagalan’ (versi semiconductor maker) Windows Vista yang ternyata mengecewakan karena tidak membutuhkan memori yang sangat banyak dan adopsinya yang lambat. Traditionally, pertumbuhan hardware dipancing oleh kebutuhan akan perangkat lunak. Computer games misalnya memicu nVidia dan ATI berlomba-lomba menampilkan produk grafis yang semakin canggih. Windows 95 memicu pertumbuhan pemakaian memori, yang waktu itu masih di kisaran 1-4 MB hingga ke kisaran puluhan hingga ratusan MB.
Perubahan pasar tiba-tiba ini memicu semua perusahaan untuk mengurangi cost seefektif mungkin. Dalam dunia memori, mengurangi cost bisa dilakukan dengan memperkecil geometri (ukuran) chip, sehingga jumlah chip yang dihasilkan per wafer akan lebih banyak. Misalnya, migrasi dari teknologi 70 nm ke 60 nm, akan memperkecil total ukuran chip hingga 25%. Bisa juga dengan memperbesar ukuran wafer dari 200 mm ke 300 mm sehingga dengan ukuran wafer yang lebih besar jumlah chip yang diproduksi dalam satu waktu akan lebih banyak.
Tetapi ingat, semua perusahaan memori di dunia akan melakukan trik yang sama. Alih-alih berusaha menekan cost yang semurah mungkin, pasar dibanjiri lebih banyak produk lagi. Harga memori tidak beranjak naik hingga pertengahan tahun 2008, yang mengakibatkan perusahaan menjadi kalang kabut. Hanya Samsung yang masih bisa bernafas di tengah kejamnya persaingan pasar.
Hynix misalnya mulai menutup pabrik yang masih memproses produk dengan wafer berdiameter 200 mm. Qimonda memutuskan untuk menghentikan riset dan pengembangan memori Flash yang banyak digunakan di kamera digital, MP3, dan handphone. Elpida yang berencana membuka pabrik baru terbesar di dunia di China menghentikan rencananya. Beberapa pabrik lain di Taiwan yang kosong melompong harus bekerja sama dengan foundry untuk berbagi loadingnya. Micron menjual beberapa divisinya yang kurang menguntungkan.
Situasi ini juga membuat panik karyawan. Saya misalnya harus mulai berburu pekerjaan baru hanya beberapa bulan setelah tiba di Jerman. Just in case something really bad happened (and it is now).
Situasi memburuk setelah akhir September krisis financial dunia mulai terlihat jelas. Industri financial yang bobrok mengakibatkan kegiatan ekonomi di seluruh dunia melambat.
Dalam dunia semikonduktor yang padat modal dan padat tenaga ahli dengan gaji mahal, keengganan bank untuk memberikan kredit berdampak sangat negatif. Berkurangnya sentimen konsumen menambah parah keadaan karena pendapatan perusahaan berkurang drastis.
Mungkin ini biasa dalam dunia semikonduktor yang sifatnya siklikal. Di saat ekonomi bagus, mereka menghasilkan uang sebanyak-banyaknya, dan di saat resesi mereka mengandalkan cash di tangan untuk membiayai riset dan pengembangan produk berikutnya di saat ekonomi bangkit kembali. Beberapa perusahaan memiliki strategi internal menghadapi masa-masa resesi yang terjadi sekitar setiap 3-5 tahun sekali.
Tetapi parahnya kondisi ekonomi sekarang dianggap oleh para analis lebih parah dari resesi tahun 2001. Tidak ada lagi perusahaan yang bisa diberi label “recession proof”. Bahkan Intel, perusahaan chip nomor 1 di dunia, harus menutup beberapa pabrik di Malaysia dan melakukan PHK massal beberapa ribu karyawan. Samsung, perusahaan chip nomor 2 di dunia, harus mengaku “kalah” dalam perang harga di pasar memori dan menelan kerugian yang signifikan. Beberapa perusahaan besar Jepang pun harus menelan kerugian hingga puluhan trilyun rupiah per tahun.
Looking forward, apakah di masa depan industri semikonduktor akan terus sustainable (berkesinambungan)? Secara realistis, tanpa adanya growth driver dalam bentuk produk inovatif baru, industri semikonduktor akan jauh lebih suram dari sebelumnya. Kebutuhan upgrade komputer tidak lagi secepat 10 tahun silam. Perkembangan software mungkin melambat karena internet. Orang tidak lagi perlu komputer dengan spesifikasi canggih untuk bisa lebih produktif menjalankan program-program canggih di komputernya seperti beberapa tahun lalu. Hanya orang-orang di kalangan tertentu yang masih mau membeli high end gadget. Di luar negeri, pembelian hand phone rata-rata harus menggunakan kontrak dengan penyedia layanan untuk terus berlangganan selama kurun waktu tertentu (1 atau 2 tahun), yang mungkin juga memperlambat penjualan handphone.
Semoga semua kekhawatiran saya salah. Semoga krisis cepat berlalu. Dan semoga siapa pun yang sedang berjuang, baik untuk mempertahankan pekerjaannya sekarang, atau pun berjuang untuk mencari pekerjaan baru karena terpaksa, diberi ketabahan dan kemudahan.